Peta Jalan Hidrogen Dorong Produksi SAF di Indonesia, Bandara dan Industri Penerbangan Mulai Masuk
TERBARUKAN.COM— Peta jalan hidrogen mendorong produksi SAF di Indonesia untuk bandara dan industri penerbangan. Kerja sama Indonesia-Jepang dalam pengembangan hidrogen dan amonia juga merambah sektor aviasi, dengan fokus pada peluang produksi sustainable aviation fuel atau SAF berbasis bahan baku domestik.
Dokumen Indonesia–Japan Collaboration Roadmap for Accelerating a Hydrogen Ammonia Society in Indonesia (HASI) menyebut Indonesia memiliki potensi feedstock yang besar untuk produksi SAF, mulai dari residu sawit, minyak jelantah, hingga bahan baku lain yang dapat diolah lebih lanjut. Dalam proses itu, clean hydrogen dibutuhkan untuk mendukung produksi SAF melalui sejumlah metode teknologi.
Sektor aviasi dipandang penting karena tekanan penurunan emisi penerbangan global terus meningkat. Dengan demikian, pengembangan SAF tidak hanya relevan untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang ekspor ke pasar dengan permintaan tinggi seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan.
Bagi masyarakat, sektor ini memang tidak seketika berdampak langsung seperti listrik rumah tangga atau transportasi darat. Namun dalam jangka panjang, pengembangan SAF dapat membuka rantai industri baru, menarik investasi, memperluas nilai tambah feedstock domestik, serta memperkuat posisi Indonesia dalam industri bahan bakar penerbangan rendah emisi.
Kendati demikian, tantangan yang dihadapi masih besar. Produksi SAF masih mahal, fasilitas hidrogen di wilayah kaya bahan baku belum berkembang luas, dan sistem standar serta pelacakan emisi sesuai skema internasional seperti CORSIA masih perlu dibangun.
Karena itu, roadmap menempatkan fase awal pada desain rantai pasok dan demonstrasi proyek. Jepang dinilai penting dalam mendukung pengembangan teknologi, pembiayaan, dan integrasi pasar sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain dalam rantai nilai SAF yang lebih tinggi. (*)
